BAHAGIA SELAMANYA

BAHAGIA SELAMANYA


Banyak dari kita yang mendambakan percintaan dengan pasangan layaknya dongeng Cinderella, yaitu happily ever after. Bahagia selamanya.

Namun banyak dari kita yang justru merusak angan-angan indah itu dengan sikap kita. Akibatnya, bukan keromantisan dan kebahagiaan yang terasa, namun sebaliknya, kekecewaan dan kekesalan yang amat sangat. Dan hal ini akan menjadi sekam yang menggerogoti kebahagiaan kita dengan pasangan. Sayang banget kan?

Sebelum hubungan berubah jadi menyedihkan, coba kenali hal-hal yang mengganggu dan merusak hubungan kita dengan pasangan. Utamanya, adalah sikap kita sendiri. Untuk membuat kita bahagia dengan pasangan, ada 3 hal penting.

1. Kenali Lakon yang Kita Mainkan

Pada usia sekarang ini, kita tentu telah melewati kehidupan yang panjang. Dan kalau mengingat perjalanan hidup kita, maka itu tak ubahnya seperti film. Masing-masing dari kita memainkan salah satu peran yang berhubungan dengan individu lainnya. Peran sehari-hari adalah lakon kita.

Kisahmu bermula dari saat kamu masih kecil, masih kanak-kanak. Begitu kamu lahir, keluargamu akan segera menerapkan suatu hal yang pasti tentang karaktermu. Misalnya saja, kalau kamu anak sulung, maka orang tuamu akan mengharapkan kamu seorang yang penuh tanggung jawab dan bisa menjadi teladan bagi adik-adikmu, kelak saat kamu dewasa.

Atau, kalau kamu anak bungsu, maka orang tuamu akan menjulukimu 'si kecil' atau 'si manja.' Dengan hal itu, kamu akan selalu diperlakukan seperti seorang anak kecil, dan atensi dari setiap anggota keluarga tercurah padamu.

Nah, masing-masing dari kita akan membawa lakon ini ketika kita mulai menemukan pasangan hidup. Kalau kamu si bungsu, otomatis kamu berharap akan mendapat perlakuan dari pasangan kamu sama seperti yang kamu terima dari keluargamu. Penuh atensi dan selalu dimanja. Atau, kalau kamu anak sulung, kamu mengharapkan kata-katamu selalu didengar oleh pasanganmu seperti yang selama ini dilakukan oleh keluargamu.

Namun, kita harus mulai berpikir, bisakah pasanganmu menerima sikap yang terbawa dari masa lalumu ini? Bisakah lakon 'seperti kanak-kanak' ini diteruskan dengan pasanganmu? Kalau kamu tetap meneruskannya, apakah hal ini tak merusak hubungan kalian? Nampaknya, kalau kamu tetap memainkan peranan sebagai kanak-kanak yang ingin perhatian penuh seperti dalam keluargamu, maka hal itu malah akan merusak kebahagiaanmu bersamanya.

2. Pahami Posisimu

Yang perlu kamu sadari adalah posisimu di sisinya. Kalau kamu selalu melakukan reaksi yang sama seperti ketika masih bersama keluargamu, apakah hal ini tak mengganggu? Misalnya saat kamu marah, maka kamu akan menggebrak meja dan kemudian pergi mengunci pintu kamar. Intinya, kamu tak bisa menghadapi perbedaan yang ada antara kamu dan pasanganmu.

Atau saat kamu mengalami kekecewaan, kamu mendramatisirnya untuk mendapatkan perhatian? Sikap ini sangat mengganggu hubunganmu dengan si dia. Apalagi kamu melakukannya secara otomatis tanpa memikirkan konsekuensinya.

Coba introspeksi dan simak apakah sikapmu seperti ini? Kalau ya, rasanya hubungan kalian ke depan bakal menjadi tidak nyaman. Dia bukan orang tuamu yang bisa menerima apapun sikap yang kamu perlihatkan. Dia seseorang dari dunia lain yang memasuki duniamu.

3. Pahami Harapanmu. Apakah Terlalu Melambung?

Salah satu masalah yang biasa muncul saat kita bersentuhan dengan percintaan adalah harapan yang melambung tinggi. Wajar saja kalau kamu berharap bahwa priamu ini adalah seorang yang romantis. Namun kalau kamu berharap dia harus mengirimimu bunga-bunga mawar atau sms mesra setiap harinya, apakah itu masuk akal? Atau kamu berharap dia akan sering memberimu kado kejutan yang indah, atau mengingat jam dan tanggal saat pertama kali kamu bertemu dengannya, atau bahkan tanggal pernikahan kalian?

Kalau kamu berharap dia akan memperlakukanmu dengan baik, itu wajar. Tetapi dengan segudang harapan yang lainnya, itu terlalu 'muluk'. Sebaiknya berharaplah yang realistis saja. Hidup kita ini di dunia nyata, bukan dongeng atau novel.    























 

MAMA & BUNGA MAWAR

BUNGA MAWAR MAMA


Aku adalah dua bersaudara dengan adikku, yang juga perempuan. Papa meninggal pada usia yang masih muda. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP dan adikku kelas 6 SD.
Aku ingat, waktu itu baru sehari Papa pulang dari cek jantung. Papa memang mengidap penyakit jantung koroner, namun enggan untuk operasi. Ketika Papa hendak masuk kamar mandi, tiba-tiba Papa jatuh. Kepalanya membentur dinding lalu lantai. Rasanya aku mau pingsan melihat kondisinya yang berdarah-darah. Papa tak bergerak lagi.

Papa Tiada
Ketika dilarikan ke rumah sakit, Papa tidak tertolong lagi. Menurut dokter, Papa terkena serangan jantung, dan itu yang menyebabkan beliau wafat. Bukan karena jatuh dan terbentur.
Mama shock sekali. Aku tahu mereka pasangan yang serasi dan saling mencintai. Papa sangat penuh perhatian pada Mama. Dan Mama juga memanjakan Papa. Mama seperti melupakan kami berdua, anak-anaknya. Hari-hari berkabung sangat lama. Mama menangis terus menerus dan tidak mau keluar dari kamar. Tidak mau makan, tidak mandi. Tubuhnya kurus kering. Dan ia termangu saja sepanjang hari.
Papa dan Mama memang tidak pernah berpisah lama. Kalau Papa dinas ke luar kota atau ke luar negeri, biasanya Mama juga ikut, meski itu berarti harus membayar tiket sendiri. Mama adalah anak tunggal.
Ketika hampir sebulan Mama tidak mengubah kebiasaannya, Oma dan Opa datang dan menemani kami. Opa menyarankan agar Mama kembali bekerja, agar hatinya terhibur. Dulu Mama pernah menjadi sekretaris di sebuah perusahaan swasta. Ketika menikah, Papa meminta Mama keluar dari kantornya.
Untunglah Mama menuruti kata-kata Opa. Lewat bantuan Opa, Mama kemudian bekerja sebagai sekretaris. Enam bulan kemudian Mama sudah kembali seperti dulu lagi. Ceria dan bersemangat.
Mamaku memang cantk sekali. Ia seperti putri kerajaan. Putih bersih dengan kulit yang sehat indah. Tinggi seperti model. Rambutnya ikal melewati bahu. Oma memang ada keturunan Belanda. Mama nampak awet muda. Kalau kami jalan bareng, teman-temanku mengira dia kakakku. Malah ada temanku yang dulu naksir dan tak percaya kalau itu adalah Mamaku.

Banyak Pelamar
Hanya 2 bulan setelah Mama bekerja, tiba-tiba saja rumah kami jadi 'ramai'. Artinya, ada tamu-tamu yang silih berganti berkunjung. Ada yang pakai Mercy, pakai BMW, ada yang naik motor. Ada yang sudah botak parah, ada yang ganteng kayak bintang film. Aku perhatikan, Mama sering nampak kebingungan menghindari mereka. Mama kadang menyempatkan diri untuk menemui mereka. Namun acap kali Mama memintaku untuk berbohong. "Kalau ada tamu, bilang Mama lagi pergi ya," pesan Mama. Mama lalu ngumpet di kamarku di lantai 2. Dua buah BB nya dimatikan.
Mama akhirnya berterus terang bahwa pria-pria itu adalah para tamu yang datang ke kantor. Rupanya mereka tertarik pada Mama. Dasar Mama yang polos, Mama selalu memberikan alamat rumah kalau ada yang memintanya. Untunglah Mama tidak membocorkan nomor telpon rumah kami, jadi kami tidak terganggu dering telpon.
Mama mengaku sudah beberapa kali menolak lamaran beberapa pria. "Mama tidak ingin menikah. Mama ingin menunggui kalian menemukan masa depan. Apapun yang terjadi, Mama tidak akan mengkhianati Papa."
Aku sungguh terharu dengan kesetiaan Mama. Bersama dengan adikku, aku berjanji untuk melindungi Mama. Suatu hari, Mama pulang malam. Ada mobil yang mengantar tetapi tidak mampir. Mama membawa buket bunga yang kemudian ditaruh di vas. Bunga mawar yang kuntumnya besar-besar. Indah sekali. Mama langsung tidur tanpa makan malam bersama seperti biasanya.
Dan sejak itu, aku dan adikku menandai ada perubahan yang besar pada Mama. Entah kenapa ia jadi sangat pesolek, maksudku, biasanya memang ia dandan kalau pergi kerja. Namun yang sekarang dandannya lebih ekstra. Kadang ia termangu dan senyum-senyum sendiri, seakan ada yang dirahasiakannya. Ia jadi sering pulang larut karena ada acara di luar yang harus dihadirinya. Perhatiannya kepada kami berdua jadi berbalik 180 derajat.
Lalu suatu saat waktu pulang malam-malam, Mama masuk ke kamarku. "Akhirnya dia melamar Mama. Mama akan menikah minggu depan."
Pernyataan itu sangat mengagetkan kami. Adikku sampai ternganga karena tak percaya. Bagaimana mungkin, tanpa tahu siapa orangnya, Mama langsung menerima lamaran seseorang? Kan selama ini Mama sudah bertekad untuk tidak menikah lagi? Kalaupun Mama berubah pikiran, tentunya Mama akan membicarakannya dengan kami terlebih dahulu, anak-anaknya. Mama rupanya mengetahui perasaan kami.
"Mama ketemu dengan seseorang yang mirip banget sama Papamu. Suaranya, wajahnya, postur tubuhnya, bahkan sikapnya. Sama persis. Mama seperti menemukan Papa kembali. Mama harus menikah dengannya."
Kaget sekali aku. Bukannya aku tak setuju, kalau memang Mama ingin menikah tentu saja aku dan adikku mendukung. Masalahnya, calonnya itu sama sekali belum pernah dipertemukan dengan kami. Siapakah dia, bagaimana status pernikahannya dan seperti apa karakternya, masih gelap untukku. Dan belum-belum, Mama sudah bilang kalau setuju menikah dengannya. Rasanya sikap Mama yang biasa teratur, hati-hati dan terencana, jadi berantakan. Apakah ini karena dia sedang jatuh cinta?

Membuang Bunga Hadiah
Dan akhirnya aku bisa membujuk Mama untuk mempertemukan kami dengan calonnya. Aku agak lega. Dan sore itu, begitu masuk rumah, Mama segera memburuku. "Ayo cepat dandan, Mama akan mempertemukan kalian dengan calon Papamu." Wajahnya berseri-seri. Sebenarnya aku lelah sekali. Tetapi melihat Mama yang berbinar-binar penuh semangat, aku tak tega untuk menolak. Camry di halaman itu ternyata dikirim untuk menjemput kami.
Ketika kami bertiga meluncur ke hotel tempat pertemuan, Mama nampak sangat bahagia. Ia berdandan cantik sekali. Matanya nampak kalau tengah jatuh cinta. Aku membayangkan tentu calonnya setara dengan Papa hingga Mama nampak tergila-gila.
Di hotel, Mama menggiring kami ke restoran yang mewah. Begitu kami memasuki resto, seorang pria nampak berdiri dari kursinya. Dia menunggu kami menghampirinya. Dia membawa buket dengan mawar yang kuntumnya besar-besar. Seperti selama ini yang dibawa Mama pulang.
Pria itu menyapa kami dan memberikan buket itu pada Mama. Mama tersipu-sipu dan merona merah wajahnya. Mama tengah jatuh cinta. Aku tak bisa bernafas karena tak percaya. Dan bukan cuma aku, adikku demikian juga. Ia berbisik. "Nggak salah nih Mama?"
Maaf, bukan melecehkan, namun yang aku temui adalah pria tua hampir 70-an, perutnya buncit hingga Ia agak kesulitan berjalan. Rambutnya jarang dan lebih banyak botaknya. Pipinya menggelambir. Tapi yang lebih membuatku takut, matanya seperti menyimpan kelicikan. Jantungku berdebar-debar. Ada yang tidak beres, tetapi aku tidak tahu apa.
Aneh sekali kalau pria ini dimata Mama, persis Papa. Papa yang tinggi, atletis, ganteng dengan rambut hitam tebal serta alis tebal dan senyum yang manis.
Kami makan malam. Dan aku langsung muak, saat sepanjang makan malam itu, pria botak itu hanya bercerita tentang kesuksesannya, perusahaannya, apartemen-apartemen mewah yang dimilikinya dan mobil-mobil mewahnya. Ia tidak memiliki atensi pada orang lain kecuali pada dirinya sendiri. Matanya terlihat licik. Dan aku tak suka cara ia memandang Mama, aku dan bahkan adikku. Seakan ia ingin melahap kami.
Ketika kami selesai makan pun, aku yakin ia sama sekali tak tahu siapa namaku dan nama adikku. Ia hanya peduli pada dirinya sendiri. Aku heran, apa yang dilihat Mama pada pria ini. Kekayaannya? Sepertinya Mama bukan tipe semacam itu. Kami sudah hidup cukup dari apa yang telah ditabung Papa. Dan kami bukan keluarga yang senang hura-hura. Aku dan adikku merasa berkecukupan.
Pulang dari acara perkenalan itu, aku dan adikku lalu sepakat untuk bercerita pada Oma dan Opa. Malam itu juga aku menelpon dan menceritakan hal yang mencurigakan itu.
Besoknya sewaktu aku belum berangkat kuliah, Oma dan Opa sudah datang dengan penerbangan pertama. Mama sendiri sudah berangkat ke kantor pagi-pagi. Oma dan Opa mendengarkan ceritaku. Lalu masuk ke kamar Mama. Oma menanyakan darimana bunga mawar yang ada di kamar Mama. Aku bilang bahwa beberapa hari sekali, Mama membawa pulang bunga. Mungkin bunga itu dari pria botak yang juga memberikan bunga yang sama saat kami makan malam bersama.
Oma lalu menelpon seseorang, entah siapa. Kemudian mengambil bunga itu dan menyuruh Bik Mina membuangnya di tong sampah. "Kita harus menjaga agar Mama tidak bawa pulang bunga. Kalau dia bawa pulang bunga, segera buang ya," pesan Oma.
Mama senang sekali waktu pulang dari kantor dan bertemu Oma dan Opa. Anehnya, ia sama sekali tidak menceritakan perihal rencana pernikahannya dengan pria botak tadi. Ia seakan lupa. Oma dan Opa juga tidak bertanya. Waktu keesokan harinya, Mama membawa bunga lagi, Oma segera merebut bunga itu. "Ini Opa lagi alergi bunga, nanti bersin melulu, mana aku urus saja," kata Oma yang segera menyuruh bibik membuangnya jauh-jauh keluar rumah.
Dua kali hal itu terjadi, dan sesudah itu Mama tidak pernah membawa bunga lagi. Ia tidak lagi pulang malam untuk acara-acara yang bukan acara kantornya. Dia kembali seperti Mamaku yang dulu.
Suatu saat, aku iseng bertanya pada Mama, "Apa Mama pernah ketemu seseorang yang persis Papa? Lalu mengajak menikah?"
Mama memandangku dengan heran, "Kok kamu tahu?" Justru aku yang lebih heran lagi. "Mama pernah ketemu. Orangnya persis Papa. Tapi nggak tahu kenapa dia tidak muncul lagi. Malah Mama diuber-uber sama pria tua yang botak, perutnya buncit dan nggak tahu malu. Tiap kali nelpon, tiap hari nunggu Mama pulang kantor. Ih, Mama ngeri..." katanya, "Mana mungkin Mama menikah lagi. Mama kan setia pada Papamu. Mama nggak akan menikah lagi. Mama sudah bahagia menunggu kamu dan adikmu jadi orang," kata Mama.
Rasanya tak masuk diakal. Tetapi menurut Oma dan Opa, Mama terkena guna-guna lewat buket bunga itu. Mama melihat pria botak itu tampil seperti almarhum Papa. Dan ia seperti amnesia, tak bisa mengingat apa-apa tentang pria botak itu.
Aku tak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Namun sejak kami membuang kiriman bunga untuk Mama itu, Mama jadi kembali seperti sediakala. Mudah-mudahan hal yang tak masuk di akal ini tidak terjadi lagi. 
            

































   

ANALISA ANGKA KEBERUNTUNGAN

ANGKA KEBERUNTUNGAN


Para ahli numerologi menyatakan bahwa tanggal lahir bisa dimanfaatkan untuk mengintip keberuntungan kita. Bagaimana cara menghitungnya, saya mencatatkannya untuk para pembaca spoweck.

 

Langkah pertama adalah catat tanggal, bulan dan tahun kelahiran kita.

Misal: lahir tanggal 9 November 1978.

Jumlahkan hinggal tinggal 1 digit saja.

9 + 1 + 1 + 1 + 9 + 7 + 8 = 36

3 + 6 = 9

Angka terakhir inilah yang menjadi angka keberuntungan yang bersangkutan. Kemudian cocokkan dengan analisa di bawah ini.


ANGKA KEBERUNTUNGAN 1
Keberuntungan selalu bersahabat denganmu. Memberimu kekuatan untuk menarik hampir semua yang kamu inginkan dalam hidup ini.
Bahkan begitu istimewanya dirimu, hingga ketika berada dalam 1 tim pun, rekan-rekanmu akan ikut terbawa dalam keberuntungan. Sayang, kadang justru dirimu sendiri yang mengabaikan keberuntungan itu. Misalnya malas meraih kesempatan yang ada, sering menunda-nunda dengan alasan yang tidak penting, kurang bersemangat dan sebagainya.
Mulai sekarang, cobalah mengubah diri. Hilangkan semua hal itu dan raihlah keberuntunganmu dalam segala bidang!

ANGKA KEBERUNTUNGAN 2
Nampaknya kamu menilai rendah dirimu sendiri. Kamu cenderung berpikir bahwa semua orang lebih beruntung dibanding dirimu. Harusnya bisa kamu sadari bahwa ketika mendapat dukungan dan peluang, kamu mampu melakukan hal itu.
Hal ini menunjukkan bahwa keberuntungan akan selalu menyertaimu ketika dirimu berjuang dengan keras. Ketika orang lain mengetahui kamu berusaha mati-matian, pantang menyerah dan memberikan hasil yang bagus, maka mereka akan mencatat dan mendukungmu. Disitulah keberuntunganmu akan tiba. Banyak hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, namun kamu mampu melakukannya dengan baik.

ANGKA KEBERUNTUNGAN 3
Tahukah kamu, kehidupanmu akan berubah menjadi lebih sukses dan makmur dalam semua bidang kehidupan. Banyak keberuntungan yang mampu kamu raih. Kuncinya adalah, pada setiap tahap awal kamu harus sabar bertahan pada salah satu bidang yang kamu pilih, dan mencoba menuntaskannya dengan sebaik mungkin.
Kalau tahap awal ini bisa kamu lewati dengan baik, maka kedepannya, hal ini bisa kamu terapkan pada beberapa bidang secara bersamaan. Yang terpenting kamu harus mampu menuntaskannya hingga titik akhir sebaik mungkin. Jangan setengah-setengah dan jangan bosan! Saat itulah keberuntungan akan selalu menyertaimu.

ANGKA KEBERUNTUNGAN 4
Kamu selalu berpendapat bahwa setiap orang memiliki rezeki sendiri-sendiri. Padahal sebenarnya, kamulah orang pertama yang mengenali keberuntungan yang mendatangimu. Sayangnya seringkali kamu berprasangka buruk dan kemudian mengacuhkan potensi keberuntungan itu. Dan tanpa sengaja dirimu melewatkan keberuntungan tersebut.
Saat kamu menyadari hal ini, kamu pasti akan berusaha mengubah sikap. Misalnya berusaha lebih keras untuk berbuat sebaik mungkin, berusaha keras untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Nah, disitulah keberuntunganmu. Kamu bisa mengenalinya dan mampu meraihnya setelah memiliki cukup bekal. Sekaranglah saat menabung bekal!

ANGKA KEBERUNTUNGAN 5
Sebenarnya pintu keberuntunganmu sangat bagus. Dan kamu mampu meraihnya. Keberuntunganmu akan terbuka lebar saat kamu berhenti, tidak lagi berusaha menyenangkan bos atau rekan-rekan yang bekerjasama denganmu. Ketika kamu melakukan segala sesuatu dengan adil, tidak berat sebelah, tidak berpihak hanya pada orang-orang yang punya kekuasaan saja, maka kamu akan dihampiri keberuntungan yang sangat bagus.
Asal kamu bisa menyadari, berbuat adil itu berbeda dengan menyenangkan semua orang. Mulai saat ini berusahalah lebih keras untuk berbuat adil kepada semua orang, terutama orang-orang disekitarmu.

ANGKA KEBERUNTUNGAN 6
Jauh didalam hati, kamu selalu merasa tidak beruntung dalam banyak hal. Apa yang ada di depan mata, tiba-tiba lenyap dari pandangan. Apa yang telah ada di tangan, tiba-tiba terlepas begitu saja.
Menyedihkan. Namun sebaiknya, kamu ingat-ingat kembali. Hal itu bukan karena kamu tidak beruntung, hanya saja kamu belum siap dengan bekal atau keahlian yang memadai. Wajar kalau orang yang telah memiliki keahlian lebih darimu, bakal mencurinya dari tanganmu.
Coba sekarang mulailah menabung bekal, menambah pengetahuan, menambah wawasan, cepat dalam bergerak, mau berusaha keras dan tidak ragu dalam merebut peluang.

ANGKA KEBERUNTUNGAN 7
Bersyukurlah karena pintu keberuntungan selalu terbuka lebar buatmu. Tanpa kamu sadari, sering muncul keajaiban-keajaiban buatmu. Misalnya saja keberuntungan-keberuntungan "kecil".
Sebenarnya ketika hal itu muncul, kamu harus mensyukurinya. Caranya dengan berusaha lebih keras, tetap menjaga kedisiplinan, tetap fokus pada apa yang tengah kamu kerjakan.
Tanpa kamu sadari keberuntungan kecil tersebut akan membawamu pada keberuntungan yang sangat besar.

ANGKA KEBERUNTUNGAN 8
Kamu seorang yang sangat istimewa. Keberuntungan mengelilingi dirimu dan siap memberimu kebahagiaan karena banyak hal yang kamu impikan bakal tercapai. Sayang kalau kamu tak menyadari hal ini.
Kunci untuk menggapai keberuntungan itu adalah apabila kamu mampu mengambil keputusan dengan kepekaan hati, ketajaman pikiran, dan keinginan membantu banyak orang.
Kalau hari ini kamu merasa kurang beruntung, bersabarlah. Tetaplah melatih kepekaan hati, ketajaman pikiran, dan keinginan membantu banyak orang. Buang rasa egoismu, siaplah berbagi, maka kamu akan merasakan keberuntungan demi keberuntungan selalu menghampirimu.

ANGKA KEBERUNTUNGAN 9
Keberuntunganmu sangat unik. Karena keberuntungan selalu menghampirimu di saat tak terduga, saat kamu hampir menyerah.
Namun ada baiknya kamu tidak bergantung kepada keberuntungan semacam itu. Karena hal ini akan menyebabkan kamu menjadi malas, tak mau berusaha keras, menunda-nunda dan tidak fokus. Kalau hal ini terus menerus kamu lakukan, maka hukum alam bisa terjadi. Keberuntungan akan menjauh darimu. Sayang kan?

Nah, raihlah keberuntungan dobel. Tetap berusaha semaksimal mungkin dan tetap yakin bahwa dirimu sangat beruntung.      
 
     

    
   





















 

 



NIGHT FRIGHT

night fright


From 1989 to 1990, Halil Chalid , at the time a high school student from Makasar, lived in South Australia as an exchange student. Among the host of unforgettable experiences that he had, what he will always remember is getting lost during an excursion at night while camping with his school friends on Kangaroo Island. How do people feel and react when they get lost and don't know whether they will ever find their way back? Halil Chalid will tell you what he went through.

The night was dark. A creepy blackness filled the sky, as though thick velvet were covering the moon and all the stars, so that nothing could shine. The air was clean, crisp, and cold as the wind whistled through the tall trees, sweeping down upon us, biting our ears and noses. The only light we had was from three small torches, allowing us to see nothing beyond our next step. Still, full of energy, spirit, and laughter, we started to walk along a well-defined path leading into the forest.
We, 23 high school kids, were on a week-long school camping excursion on Kangaroo Island, southwest of Adelaide, South Australia. Tonight's program was an after-midnight hike in the forest to watch the feeding habits of wallabees and other animals inhabiting the island.
All too soon, the path dwindled into a paddock of pits, rocks, and tree stumps. Still, we had great fun trying to discern various species of animals against the blackboard of the night. Crunch! We heard something underfoot. Suddenly, we were all filled with terror. It was the skeleton of a wild pig, its teeth glistening in the light of the torches. My imagination saw the animal jumping towards us, drooling at the smell of human flesh.
As we continued our hike, the rough path suddenly disappeared, leaving us with absolutely no sense of direction. We went on in random direction, plowing our way through knee-high grass. It seemed that with every step we made, more bushes sprang up around our feet, creeping up our bodies. Our legs moved uncontrollably, not knowing when to stop. Although they were growing weary, we managed to keep them moving. We trudged along like a tired herd of sheep, grabbing whoever's arm was closest, and believing that en masse we were sure to find a way out of this vast maze of scrubland.
By now, our laughter had changed to nervous giggles as we scared ourselves with wild stories about people vanishing in the darkness, never to be seen again. After a while, even the giggles were gone. Most of us became silent as we walked, closely listening to the crackle of the ground under our feet, to the rustle of the bushes, and to the swish of running water in the distance.
All of sudden, we all stopped short simultaneously. For a few second, no one uttered a word. The sea was in front of us! I remembered turning around to the person behind me, and seeing the fright in his eyes.
"What's the time?!" someone yelled. "I don't care!" replied another. It was about one and a half hours since we began our walk. Our watches were our only guide to what was happening to us. We couldn't tell north from south, being surrounded by bushes and trees, and the sea in front of us.
Everyone was tense now. Tempers flared up, voices rose. We shouted harsh words at one another, only to apologize the next moment. Luckily, common sense took control of us as we began to realize we had to rely on one another to get out of our ordeal. Our vile utterances changed to words of encouragement. Gathering our spiris, we tried to reassure one another that we would find our way back. In reality, we were all scared to death as each step we made seemed to take us further away from our campsite.
Looking up into the sky for a sign of stars or the moon, a few among us saw a flash of light. Then nothing, then another flash. It was the shine of the island's lighthouse, our first sign of direction. At last we knew which way was south, the direction of our homebase. With more confidence, we went on. However, our "track" took us deeper into the scrub. We felt the spikes of the bushes pricking our faces and hands.
Plodding along, I suddenly longed for my family and friends back home. My heart raced, thinking of my life's ambitions, and everything that ever mattered to me. Then it started to rain. Glancing at the person by my side (I didn't even know who it was). I saw tears running down his cheek. I reached out to touch his arm, and I, too, felt hot tears stinging my eyes. Walking, walking, walking to nowhere.
We realized we had been going in circles. It seemed that the beams of the lighthouse hadn't helped much. The unbelievable darkness was intensified by the winds that seemed to be mocking us all. The bushes and the trees became live creatures, their arms grabbing at us as we passed by. It was just like a bad dream: the faster we walked, the quicker the trees ran.
I looked at my watch and saw that another hour had passed. It seemed like ages! Our hair was straggly, leaves were stuck in our collar, and our clothes were wet. Our spirit were dampened too. Still, we moved on in sheer desperation to find something familiar. "Look! In the sky!" I shouted. Stars dazzled through the dark night. How beautiful! I thought. Things were getting better, after all. Weren't they?
Then, one of the girls fell down. Some of us reacted by crying out loud. We boys took turns carrying her. She was weak and very scared. But weren't we all? Then it happened! More of us started to cry. To top it all, another of us (this time a boy) crumpled to the ground. There was no way to go any further, not in this state of near panic. Everything became a blur...
Was it real?! No, it couldn't be. I was shaken back to reality as we pushed one another to get under a barbed wire fence. Where it came from, I don't know. It had shown up as if by magic, leading us onto a rubble clearing, which turned out to be a "beautiful, lovely" road. We dropped down on the hard surface, huddling against one another, crying and laughing at the same time. Not realizing how it came to be, I was holding somebody's head between my hands. His eyes flickered, but his lips were still. I pinched his ears to wake him up; nothing happened. Then I slapped him firmly on the face a few times while firing some questions at him. Faintly, he whispered something. Tears welled up in my eyes. I heaved a huge sigh of relief, knowing he would be all right.
All at once, screams of delight filled the night. Looking up, I saw two bright lights piercing through the darkness. It was a bus-our ride to safety. We were all quiet on the bus ride back to our camp. What was there to say, anyway, except "Thank you, God?"
Once on safe ground in the camp, we unleashed our emotions: we cried, laughed, hugged, praised each other for our courage, and wished each other luck on our survival. What we didn't mention to one another, but what each of us felt inside, was a strong bond among us. In the beginning of the night, we had been a group of individuals, excited to go on an adventurous excursion. By the early hours of the morning, after an ordeal of more than three hours, we had become one, held together by something greater than anything else we had known before. This strong bond was our new faith, our new belief in one another.   
     











MENGATASI GANGGUAN KESEHATAN SI KECIL

GANGGUAN KESEHATAN


Aktivitas sekolah yang padat dan interaksi dengan lingkungan dan banyak orang di sekolah membuat si kecil rentan terhadap jenis penyakit. Gangguan kesehatan ini bila tidak ditangani dengan tepat bisa mengganggu proses penyerapan pelajaran anak-anak di sekolah. Berikut beberapa jenis penyakit yang perlu diwaspadai orangtua.

1. NYERI PERTUMBUHAN (GROWING PAINS)
Gejala:
  • Rasa nyeri atau seperti terbakar pada kaki, otot paha, betis, telapak kaki, atau sendi kaki.
  • Rasa nyeri biasanya muncul sore dan malam hari yang membuatnya terbangun.
  • Rasa nyeri datang dan pergi. Anak biasanya akan merasa lebih baik setelah dipijat di bagian yang terasa terasa nyeri.
  • Penyebabnya bukanlah proses pertumbuhan seorang anak, walaupun namanya growing pains. Aktivitas fisik yang berlebihan pada siang hari seperti berlari, memanjat, melompat, dan olahraga diduga merupakan penyebabnya.
  • Anak yang mengalami growing pains biasanya berusia sekitar 2-12 tahun, 25 hingga 40 persennya berkisar antara usia 3-5 tahun, serta antara 8-12 tahun.
Konsultasikan ke dokter anak jika:
  • Rasa nyeri menetap, tidak menghilang pada pagi hari.
  • Rasa nyeri mengganggu aktivitas anak sehari-hari. 
  • Rasa nyeri muncul berhubungan atau didahului sebuah trauma (anak jatuh).
  • Disertai tanda dan gejala lain seperti bengkak dan kemerahan di persendian, demam, pincang atau kelumpuhan, kemerahan di kulit daerah tungkai, hilang nafsu makan, lemas, dan rasa lelah. 

2. KARIES GIGI
Salah satu gangguan kesehatan gigi yang paling banyak diderita anak usia sekolah adalah karies gigi, yaitu penyakit infeksi yang merusak struktur gigi. Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian.
Gejala:
  • Karies ditandai dengan adanya lubang pada jaringan keras gigi, dapat berwarna coklat atau hitam.
  • Gigi berlubang biasanya tidak terasa sakit sampai lubang tersebut bertambah besar dan mengenai syaraf dari gigi tersebut.
  • Pada karies yang cukup dalam, biasanya keluhan yang sering dirasakan adalah rasa ngilu bila terkena rangsang panas, dingin, atau manis. Bila dibiarkan karies akan bertambah besar dan dapat mencapai kamar pulpa, yaitu rongga dalam gigi yang berisi jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila sudah mencapai kamar pulpa, akan terjadi proses peradangan yang menyebabkan rasa sakit yang berdenyut. Dalam waktu lama, infeksi bakteri dapat menyebabkan kematian jaringan dalam kamar pulpa dan infeksi dapat menjalar ke jaringan tulang penyangga gigi, sehingga dapat tarjadi abses.
Yang dapat dilakukan:
  • Bersihkan gigi secara benar dan teratur dengan pasta gigi ber-fluoride minimal dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
  • Hindari atau kurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula seperti permen, coklat, dan jus buah. Perbanyak konsumsi makanan dan minuman yang kaya kalsium dan fluor, yang merupakan faktor kariostatik sangat baik untuk meningkatkan daya tahan gigi terhadap terjadinya karies atau lubang gigi. Contohnya susu, yogurt, apel, jeruk, wortel, sayuran hijau, dan ikan.
  • Kunjungi dokter gigi secara teratur setiap enam bulan sekali atau sesuai saran dokter untuk memeriksakan kesehatan gigi si kecil.

3. PENYAKIT MATA
Gangguan kesehatan mata pada anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama faktor genetik, biasanya kerusakan yang diturunkan adalah cylinder myopia (silindris), myopia (mata minus), dan hypermetropia (mata plus). Faktor lainnya berasal dari lingkungan, termasuk perkembangan teknologi. Mata yang dipakai bekerja terus-menerus, terutama pada anak kecil yang sedang dalam proses penyempurnaan perkembangan mata, dapat terganggu.
Gejala:
  • Ketidakmampuan melihat objek dari jauh, seperti membaca dari papan tulis.
  • Sering menyipitkan mata ketika melihat benda di hadapannya seolah-olah ingin memperjelas penglihatannya.
  • Kesulitan membaca.
  • Sering menggosok-gosok matanya ketika sedang menonton atau beraktivitas, walaupun saat melakukannya ia sedang tidak mengantuk. Kemungkinan karena matanya terasa gatal atau panas.
  • Membaca dalam jarak yang terlalu dekat dengan mata.
  • Mata sering berair tiba-tiba.
  • Sering menabrak sesuatu yang menghalangi langkahnya dan tidak berusaha untuk menghindar.
Yang dapat dilakukan:
  • Istirahatkan mata dengan cukup. Jangan biarkan si kecil membaca, menonton televisi, main games, atau bermain handphone terlalu lama.
  • Berikan konsumsi nutrisi yang tepat untuk kesehatan mata, seperti vit A, C, B2, E, dan DHA. Selain itu diperlukan pula tiga zat gizi yaitu lutein, zeaxanthin, dan astaxanthin, yang dapat melindungi sel mata akibat paparan sinar ultraviolet. Contoh makanan yang baik untuk mata diantaranya sayuran hijau, buah berwarna kuning, oranye, dan merah, susu, dan ikan.
4. SERUMEN TELINGA
Salah satu masalah telinga paling umum pada anak-anak sekolah disebabkan oleh adanya sumbatan kotoran telinga (serumen prop). Hasil survey cepat Profesi Perhati dan Departemen Mata FKUI di beberapa sekolah di enam kota di Indonesia, diketahui prevalensi serumen prop pada anak sekolah antara 30 hingga 50 persen. Sumbatan serumen prop seringkali diabaikan orangtua padahal hal ini dapat mengakibatkan gangguan pendengaran yang akan mengganggu proses penyerapan pelajaran. Bila tidak segera dibersihkan penumpukan serumen dapat mengakibatkan terjadinya infeksi.
Gejala:
  • Kemampuan pendengaran berkurang.
  • Telinga terasa penuh.
  • Otonomi (seperti mendengar suara sendiri/bergema)
Yang dapat dilakukan:
  • Bersihkan telinga anak secara teratur. Namun pastikan pembersihan telinga dilakukan dengan cara yang aman agar tidak menyebabkan luka, antara lain dengan menggunakan alat yang tumpul dan tidak masuk terlalu dalam kedalam telinga.
  • Untuk serumen yang menumpuk, pembersihan telinga dapat dilakukan oleh dokter THT.
5. TERBAKAR MATAHARI
Aktivitas anak-anak di luar ruang di siang hari membuat kulit mereka rentan terpapar radiasi ultraviolet dari panasnya sinar matahari. Terlalu sering terpapar sinar matahari tanpa perlindungan yang tepat beresiko terkena kanker kulit.
Gejala:
  • Kulit kemerahan yang menyakitkan. 
  • Kulit mengelupas disertai rasa gatal.
Yang dapat dilakukan:
  • Oleskan tabir surya yang mengandung minimal SPF 15 di seluruh wajah dan tubuh anak sebelum melakukan aktivitas. Pakailah tabir surya tersebut bahkan jika hari berawan.
  • Saat beraktivitas di tempat yang terpapar langsung matahari, pakaikan anak pakaian dari bahan katun yang ringan dan menutupi kaki serta tangan, topi bertepi lebar, dan kacamata hitam yang memberikan perlindungan terhadap UVA dan UVB.
  • Siapkan selalu air minum saat beraktivitas.
  • Dorong anak Anda untuk bermain dan beristirahat di tempat teduh ketika sinar matahari sedang sangat terik (pukul 10:00-16:00).
  • Waspadalah bahwa bermain dan menghabiskan waktu di air atau dekat air biasanya meningkatkan resiko terbakar sinar matahari oleh karena adanya refleksi air.

6. KURANG GIZI
Asupan gizi yang mencukupi pada anak akan membantu pertumbuhan anak secara optimal baik untuk pertumbuhan fisik maupun kecerdasannya. Kondisi kecukupan gizi seorang anak dapat dilihat mulai dari penampilan umum (berat badan dan tinggi badan), tanda-tanda fisik, motorik, fungsional, emosi, dan kognisi anak.
Dua di antara nutrisi penting yang mendukung aktivitas sekolah anak adalah zat besi dan zinc. Kebutuhan anak akan zat besi menjadi penting karena dapat membantu metabolisme energi, meningkatkan konsentrasi dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Sedangkan, zinc sebagai mineral penting pada sel tubuh berfungsi untuk menstimulasi 100 enzim yang mendukung reaksi biokimia dalam tubuh, meningkatkan imunitas, dan membantu kemampuan indera perasa dan penciuman.
Gejala:
  • Kekurangan zat besi dapat mengalami anemia (kekurangan sel darah merah) yang berdampak pada sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan lesu.
  • Kekurangan zinc akan mengakibatkan anak menderita gangguan dalam pertumbuhan fisik.
Yang dapat dilakukan:
  • Berikan anak konsumsi makanan yang mengandung zat besi, di antaranya terdapat pada daging merah, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta makanan yang difortifikasi (diberi tambahan vitamin dan mineral). Sedangkan zinc dapat diperoleh dengan mengonsumsi daging, keju, telur, unggas, sayuran hijau.  
       




















 

THE LITTLE GIRL WITH THE MATCHSTICKS

the little match girl


It was New Year's Eve, the last night of the year. It had been snowing for some time and outside it was very cold and dark. A little girl in a tattered blue apron was walking slowly along the deserted streets, her head bent against the icy wind. Her feet were bare, her face white and drawn with cold and fatigue. She had been wearing sandals when she left the house, but they were too big and not very comfortable because they were her mother's. She lost one of them while she was hastily crossing the street where a speeding carriage almost knocked her down. A boy ran off with the other sandal, laughing and shouting that it was a handy thing to use as a cradle later when he had children of his own.
So now the little girl trudged along the streets, her bare feet red and blue and purple with cold. Inside the pocket of her worn apron there were lots of matchsticks, and she had a bunch of them in her hands. For hours she had been trying to sell these matches, but nobody wanted to buy them. She hadn't earn a single penny yet. She was exhausted and miserable, and trembling with cold and hunger. Snowflakes fell gently on her beautiful blond hair but she didn't notice it. Warm light shone from every window she passed and the delicious smell of roast turkey was everywhere. It was New Year's Eve, yes, she knew that...
She crouched down in a small space between two houses to get away from the cold, with her legs folded underneath her frail body. But she wasn't getting any warmer. Her whole body was freezing. She didn't want to go home because her father would certainly beat her for not having sold any matchsticks tonight. Besides, at home it would be cold, too: the roof was leaking, and the wind would blow through the holes even though the biggest of them had been patched with paper and rags. Oh, how numb her hands were...Clasping the bunch of matchsticks against her breast, she wish she could light just one of them to warm her cold little fingers. If only she was brave enough to pull out just one match, and scratch it against the wall to light it; it would do her a world of good...
And that's exactly what she did! Shrssss!.... Look how it was burning! Just like a small candle with a warm bright flame! Eagerly the little girl put her small white hand around it and held it there for some time...And now she was sitting near a warm stove. The fire made crackling noises and gave out a wonderful warmth. But when she stretched out her cold bare feet toward the fire to warm them, it went out and the stove disappeared, and she was sitting there in the cold, in the corner between two houses, with a burnt matchstick in her hand. Then she lit another match, and this time it burned and shone, and where its light fell on one of the walls, it became so thin and sheer that the girl could see right through it into the room where a table with food had been cheerfully laid out. On the white tablecloth there was fine china, and on a silver plate sat a piping hot turkey filled with prunes and apples. And then the turkey jumped off the plate onto the floor, and it rolled over and over, with the fork and knife still sticking in its back, heading straight for the little girl... Then the match went out and there was nothing left but the cold thick wall.
The little girl lit another match, and now she was sitting under a beautiful Christmas tree! The tree was even bigger and more beautiful than the one she had seen at Christmas in the living room of a very wealthy family. On the green branches there were thousands of flickering candles and lovely decorations, such as you would only see in expensive shops. Anxiously the little girl reached out for them.... Suddenly the match went out, and the Christmas lights started floating gently up, higher and higher, until at last they seemed to attach themselves to the sky, remaining there sparkling like a thousand stars. One of the lights fell, streaking a fiery line across the dark sky...
"Now somebody is dying," the little girl said to herself, for her grandmother, who was the only person ever to care for her, once said, "Whenever a star falls, a soul goes to heaven." So the little girl lit another match, and in the bright light she saw her grandmother appear, a smile on her warm, friendly face.
"Grandmother!" the little girl cried out. "Oh, please, take me with you! when the match goes out, you will go too, just like the stove, the turkey, and the beautiful Christmas tree did!" And hurriedly she lit the whole bunch of matchsticks, for she wanted so very much for her grandmother to stay. The matchsticks burned so brightly that it was even lighter than midday. Never before had her grandmother seemed so beautiful and lovely! Gently the old lady took the little girl in her arms, and in the shining light of the matchsticks they floated happily upwards, higher and higher to a place where there was no hunger and sorrow.
New year's morning found the little girl still sitting in the corner between the two houses, with red cheeks and a smile on her lips, frozen to death on the last night of the year. In her hand was a bunch of burnt matchsticks...
"Oh, the poor little girl!" people said when they saw her. "She probably wanted to warm herself with the matchsticks."
Nobody knew what beautiful things she had seen, and how happy and radiant she had entered the New Year with her grandmother...              


























MERENCANAKAN PENDIDIKAN ANAK

RENCANA PENDIDIKAN ANAK


Merencanakan dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak adalah kewajiban dan keinginan setiap orangtua. Namun, tak semua orangtua memiliki kesiapan dana untuk mendukung rencana pendidikan anak tersebut. Lantas bagaimana cara agar orangtua terbebas dari kecemasan soal biaya pendidikan?

MENGAPA PERLU DIPERSIAPKAN?

Penasihat keuangan Ahmad Gozali mengatakan, ada dua faktor yang menyebabkan biaya pendidikan harus mendapat perhatian ekstra. Pertama, biaya pendidikan yang terus melonjak akibat sistem pendidikan yang semakin canggih, misalnya dengan mengadopsi sistem atau metode belajar internasional. Kedua, orangtua tak bisa menunda jadwal pendidikan anak hingga uangnya cukup.

Idealnya, dana pendidikan sudah mulai dipikirkan serta disiapkan sejak perencanaan memiliki anak atau saat anak lahir. Mempersiapkan dana pendidikan juga bukan asal menabung, agar dana yang dikumpulkan dapat tepat guna.

PILIH TABUNGAN ATAU ASURANSI PENDIDIKAN?
Menurut Ahmad Gozali terdapat dua sumber dana pendidikan yang paling umum yaitu tabungan dan asuransi pendidikan. Walaupun memiliki tujuan yang sama, tapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Dan untuk menentukan mana yang lebih baik, perlu melihat mana yang lebih cocok untuk dijalankan.

TABUNGAN PENDIDIKAN

Adalah tabungan yang dirancang khusus di bank ketika nasabah menabung secara periodik dan otomatis ke dalam sebuah rekening yang diberi jangka waktu tertentu agar bisa sesuai dengan jadwal pendidikan anak sekolah. Karena dananya dikunci, biasanya bank akan menawarkan hasil investasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa.

Walaupun diberikan jangka waktu, orangtua bisa saja mencairkan tabungan tersebut sebelum jatuh tempo. Namun, tentunya sama seperti deposito, akan dikenakan penalti atas hal ini. Sebaiknya hal ini tidak dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.

Selain sebagai sarana investasi, tabungan pendidikan juga dilengkapi dengan asuransi. Artinya, jika orangtua sebagai pencari nafkah meninggal dunia dan tidak bisa lagi menabung untuk biaya pendidikan anak, maka asuransi akan menggantikan setoran tabungan itu. Tanpa harus menabung lagi, biaya pendidikan anak-anak tetap terpenuhi.

ASURANSI PENDIDIKAN
Karena produk dasarnya asuransi, lebih tepatnya asuransi jiwa, asuransi pendidikan ini sebetulnya tidak berbeda jauh dengan produk asuransi jiwa lainnya, yaitu program yang akan memberikan keluarga manfaat jika terjadi resiko kematian. Manfaat yang diterima biasanya adalahsantunan dan hasil investasi untuk biaya pendidikan. Namun, jika tidak terjadi resiko kematian, asuransi akan memberikan sejumlah beasiswa pendidikan yang berasal dari investasi berupa premi yang sudah dibayarkan.

Sebagai produk asuransi, investasi ini tidak bisa dicairkan setiap saat. Investasi ini baru bisa dicairkan dengan dua kondisi. Pertama, apabila telah jatuh tempo, dan kedua jika terjadi resiko kematian. Jatuh temponya sendiri bisa diatur dan disesuaikan dengan jadwal pendidikan anak-anak, agar pas anak masuk sekolah, pas juga uangnya cair. Biasanya hasil investasi di asuransi pendidikan relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan tabungan pendidikan. Namun tidak seperti tabungan, ia tidak bisa dihentikan di tengah jalan dan proses pencairannya lebih berbelit.

PRODUK INVESTASI LAIN
Bentuk investasi lain yang dapat menjadi alternatif mempersiapkan dana pendidikan adalah dengan berinvestasi ke dalam produk investasi surat berharga seperti reksadana, saham, atau dalam bentuk barang seperti emas, rumah, atau tanah.

Apapun produk investasi yang digunakan, pastikan produk investasi tersebut dirancang sedemikian rupa dengan mengutamakan kepentingan anak serta mampu memberikan manfaat tepat pada saat diperlukan. Dan pastikan investasi dilakukan secara rutin dan menjadi prioritas. Jangan berinvestasi dari uang sisa bulanan karena umumnya orangtua akan kesulitan menyisakan uang di akhir bulan. Jadi sisihkan terlebih dahulu dari penghasilan.

Sebagai tambahan, berikut 4 langkah untuk mempersiapkan dana pendidikan anak-anak Anda.
1. Tentukan target dana pendidikan yang dibutuhkan
Cari informasi biaya saat ini untuk masing-masing jenjang pendidikan (TK-Universitas). Lakukan dengan mempertimbangkan tiga hal. Pertama, dana yang harus dibayarkan berdasarkan karakteristik sekolah yang akan dipilih, seperti uang pangkal, sumbangan sekolah, dan uang SPP. Kedua, biaya penunjang pendidikan, seperti perlengkapan sekolah, seragam, dan buku pelajaran. ketiga, lokasi sekolah, seperti biaya transportasi.

Hitung biaya pendidikan tersebut pada saat anak mencapai usia masing-masing jenjang pendidikan. Kalikan dengan asumsi kenaikan biaya pendidikan per tahun sampai anak masuk sekolah. Misalnya biaya masuk TK saat ini adalah Rp. 9 juta dan si kecil akan masuk TK 4 tahun lagi. Dengan asumsi rata-rata kenaikan biaya pendidikan per tahun 25 persen, 4 tahun lagi biaya masuk TK akan menjadi sekitar Rp. 17,5 juta.

2. Tetapkan cara pencapaian target biaya pendidikan
Lakukan setoran rutin bulanan ke suatu produk investasi. Misalnya menabung secara rutin ke tabungan biasa, tabungan pendidikan, deposito, asuransi pedidikan, atau investasi ke produk reksadana. Menabung atau melakukan investasi sekali saja di muka dengan dana tunai yang dimiliki saat ini.

3. Lindungi investasi dari resiko
Antisipasi hilangnya kemampuan orangtua untuk mendapatkan penghasilan dengan mengambil asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan yang memiliki manfaat asuransi, sehingga jika terjadi resiko, pihak asuransi akan meneruskan persiapan dana pendidikan untuk anak.

4. Lakukan evaluasi dan revisi
Untuk memastikan agar target dana pendidikan yang diinginkan tercapai, evaluasi rencana keuangan yang telah dilakukan minimal setahun sekali. Hal ini akan membantu orangtua mengantisipasi kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian asumsi kenaikan biaya pendidikan yang digunakan sebelumnya. 
 

  




   

























































 

Random Post