KISAH PENGALAMANKU DENGAN KARTU KREDIT

KISAH PENGALAMAN KARTU KREDIT
creditcard-revolution.com

Memiliki kartu kredit dapat menjadi sebuah pilihan yang baik. Namun, bila tidak diatur dengan bijak, kemungkinan besar kartu mungil tersebut dapat menjerat anda ke dalam mimpi buruk. Pada awalnya saya tidak memiliki keinginan untuk memiliki kartu kredit. Bagi saya, rasanya kartu kredit tidak memiliki manfaat lain selain memberi utang bila pemegangnya sedang memerlukan dana untuk belanja dan sebagainya.

Lama kemudian, akhirnya saya membuat pengajuan sebuah kartu kredit hanya karena dorongan hati untuk membantu seseorang yang bekerja sebagai sales kartu kredit. Cukup lama kartu kredit tersebut mendekam dalam dompet saya tanpa digunakan karena memang saya tidak membutuhkannya. Namun, lama kelamaan ketika memasuki bulan-bulan sepi dan memasuki "tanggal tua", keuangan saya semakin menipis hingga barulah terpikirkan oleh saya untuk menggunakan kartu kredit yang saya miliki.

Pertama kali menggunakan kartu kredit saya merasa tertolong ketika keuangan sedang  surut sedangkan kebutuhan cukup banyak. Tidak lama kemudian, saya mulai terbiasa menggunakan kartu kredit sebagai sarana pembayaran. Bahkan saya pun akhirnya menyadari manfaat dari kartu kredit ini. Beberapa kali saya harus memesan tiket pesawat via online dan beberapa maskapai memang mengharuskan pembelian tiket menggunakan kartu kredit. Penggunaan kartu kredit yang terlalu sering sepertinya cukup mempengaruhi pola belanja saya hingga akhirnya saya mencoba untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh kartu kredit dan bagaimana jika saya hidup tanpa kartu kecil tersebut. saya pun mencobanya selama dua minggu sejak 11 September 2014 hingga 24 September 2014.

MINGGU I

Minggu pertama menjadi minggu yang teramat berat untuk saya. Ternyata selama ini saya sudah terlalu terlena dengan kartu kredit karena setiap transaksi yang saya lakukan sebagian besar menggunakan kartu kredit dan itu baru saya sadari di minggu ini. Saya terpaksa meninggalkan kartu kredit di laci lemari sehingga tidak perlu melihat dan tidak tergoda untuk menggunakannya. Saya sengaja memulai puasa di dua minggu terakhir untuk lebih merasakan pengaruh dari kartu kredit.

Pada awalnya, setiap belanja saya selalu menggunakan uang tunai. Namun baru saja lolos dengan mulus tanpa kartu kredit, keesokan harinya tepat pada hari Jumat tanggal 12 September 2014, saya tergoda untuk membeli sepasang sepatu. Sudah teruji sejak saya duduk di bangku sekolah bahwa saya rela merengek-rengek kepada ibu saya untuk mendapatkan sepatu yang amat saya inginkan. Berjalan-jalan di mall dan melakukan window shopping itu kegiatan yang penuh godaan. Sepatu ibarat wanita berpakaian sexy buat saya. Sehingga bagi saya tidak mungkin saya biarkan teronggok begitu saja di etalase kaca atau tetap berada di toko, hahaha... Apalagi dengan banyaknya diskon tambahan jika menggunakan kartu kredit tertentu. Namun karena kartu kredit saya sudah disembunyikan, akhirnya saya mencoba beli secara tunai. Yang paling berat ternyata bila saya membeli dengan kartu kredit, sudah pasti akan ada beberapa potongan harga yang saya dapatkan, tapi karena saya membeli secara tunai maka saya harus membayar dengan harga normal.

Setelah membeli sepatu tersebut barulah saya menyadari bahwa banyak mall atau toko yang mengadakan program atau promo khusus untuk berbagai kartu kredit sehingga bila anda menggunakan kartu kredit tersebut sudah pasti anda akan mendapatkan potongan harga. Mungkin hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia mulai merasa dimudahkan dengan kartu kredit bahkan sampai ada yang ketagihan kartu kredit. Terkadang berbagai promo ini dapat menyesatkan dan membuat kita terlena hingga kita lupa bahwa kartu kredit sebenarnya mirip seperti kartu pengenal untuk anda meminjam uang. Intinya, kartu kredit tersebut bukan berasal dari uang tunai yang anda miliki. Saya pun menyadarinya setelah membeli sepatu dengan uang tunai. Harga sepatu ini merupakan cobaan terberat saya pada minggu pertama. Minggu pertama saya habiskan dengan perasaan sedih karena harus mengeluarkan uang cukup besar sekaligus senang mendapatkan sepatu yang saya inginkan. Rasanya campur aduk menjadi dilema.

Tidak hanya toko pakaian dan produk saja yang menawarkan diskon lewat kartu kredit. Berbagai restoran dan kafe tidak lepas dari pengaruh kartu kredit. Bank, restoran, serta kafe sering bekerja sama dengan memberikan iming-iming diskon dan saya termasuk orang yang terbiasa menggunakan kartu kredit untuk mendapatkan diskon di restoran atau kafe langganan. Jika saya sedang jalan dengan istri dan ingin dinner, saya biasa memilih restoran yang bekerja sama dengan bank yang saya miliki kartu kreditnya untuk mendapatkan diskon. Maklumlah, saya orang indonesia yang cinta terhadap diskon.

Sekali lagi saya menyadari betapa beratnya kondisi ini tanpa kartu kredit dan harus menggunakan uang tunai. Saat dinner bersama dengan istri, saya harus membayar tunai dan tentunya tidak mungkin bila saya meminta istri saya yang membayar tagihan. Memang terasa cukup berat di saat-saat kritis seperti ini mengeluarkan uang tunai apalagi dalam seminggu ini tercatat saya sudah mendatangi 4 restoran bersama istri.

MINGGU II

Uang sudah mulai menipis, bensin juga sudah semakin mendekati letter E atau EMPTY, tapi masih tidak bisa menggunakan kartu kredit. Alhasil, saya terpaksa mencari berbagai cara yang saya pikir mungkin. Mulai dari membongkar celengan yang isinya uang receh untuk membayar parkir sampai untuk membeli bensin. Saya tidak lagi merasa malu dan tidak peduli pada pasang wajah yang menatap saya dengan ekspresi kosong dan ada juga yang bingung. Maklum, mungkin para petugas SPBU itu belum pernah mendapatkan uang receh segunung untuk setangki bensin. Tapi, mau bagaimana lagi? saya sudah tidak memiliki uang selain receh-receh yang berharga ini.

Receh habis, terpaksa harus menebalkan muka dan menurunkan gengsi meminta bantuan pada orang tua. Saya seorang pria dewasa yang telah bekerja dan menikah namun harus meminta dana tambahan dari orang tua. Rasanya tentu memalukan dan menyedihkan. Namun uang yang saya pinjam tentu akan dikembalikan bila sudah gajian nanti, pikir saya. Untuk mengurangi penderitaan akan kekurangan uang, saya mengakali dengan selalu membawa bekal ke kantor. Jadi saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan siang. Sedangkan pada saat weekend tiba, kebetulan saya memiliki pekerjaan tambahan yang mengharuskan saya tetap di rumah, tepatnya didepan komputer dan bekerja.

DAN HASILNYA ADALAH...

Tanpa disadari, penggunaan kartu kredit dapat membuat kita ketagihan. Bahkan di saat kita mempunyai uang tunai pun kadang kita malas menggunakannya dan lebih memilih menggunakan "kartu sakti" ini. Kartu kredit adalah suatu hal yang dirancang oleh dunia perbankan demi kemudahan bertransaksi. Saya sudah beberapa kali terjerat hutang yang cukup membuat stres saat menerima tagihan. Tagihan datang di saat saya belum gajian dan saya kebingungan bagaimana caranya membayar tagihan tersebut. Belum lagi beberapa kali sempat ada tagihan yang membengkak hingga saya sempat berpikir bahwa tagihan tersebut rasanya bukan milik saya. Saya pun mulai mengingat-ingat untuk apa saja kartu kredit tersebut saya gunakan. Namun ternyata tidak sedikit yang saya lupakan.

Saran saya, lebih baik jangan pernah memiliki kartu kredit bila anda tidak bijak dalam menggunakannya. Dengan berpuasa selama dua minggu, saya pun menyadari kesalahan yang saya buat dengan kartu kredit. Saya juga menyadari bahwa kartu kredit dapat menjadi penolong bila digunakan dengan tepat dan hanya di waktu kita benar-benar membutuhkan, seperti ketka akhir bulan dan sudah harus memenuhi kebutuhan keluarga seperti susu anak dan kebutuhan sembako. Tapi bila digunakan ketika anda masih memiliki uang tunai, rasanya anda hanya akan terjerat dalam dunia kredit macet dan akhirnya akan menyengsarakan anda. Berpuasa selama 2 minggu tanpa kartu kredit ternyata memberi pengaruh positif untuk saya, terutama dalam bentuk tagihan yang berkurang drastis. Selain itu, saya menjadi sadar untuk tidak mudah tergoda dengan diskon yang ditawarkan oleh toko atau restoran.   
       









7 komentar:

Dyho Haw said...

Wah banyak bener nih pengalamanya. nyimak dulu gan.

Yos LF said...

Kalau saya nggak brani buat kartu kredit, udah banyak bang yang tawarin tapi nanti takudnya kebablasan ujung ujungnya repot.

Baru sempet baca setengah gan..
Lanjut nanti :)

Donna Parfum said...

Lebih baik gak nyoba2 pny dan gak mo pny sama sekali deh... tkt kecanduan. Iya klo lg ada rejeki byk sih.. byr cicilan gak masalah.... yg nyesek nya pd saat lg g pny uang... pusyiiing. Mendingan nabung yg byk dan gunakan debit. Toh.. antara debit dan kartu kredit penggunaannya tdk jauh berbeda.. hny yg satu ujungnya kita berutang.

Pengalaman yang bagus gan. maklum ane blum punya kartu krediat

Nur Sahidin said...

ia sii nyatanya kartu kredit bs jadi sarana penolong tp kenyataanya cm mempersulit

terima kasih sarannya

Random Post